Kunci Keberhasilan Muji, Tukang Becak yang Berhasil Mengantar 4 Anak Menjadi Sarjana

06 February 2018 |

Sedari kanak-kanak, Anda pasti sudah sering mendengar tentang pentingnya memiliki mimpi. “Gapailah mimpi setinggi langit”, demikian kalimat motivasi yang sering terdengar ketika seseorang masih di taman bermain. Kekuatan mimpi terbukti bisa mengantarkan seseorang menggapai cita-cita walau semula terasa mustahil. Tentu saja keberhasilan yang dicapai bukan hanya membutuhkan keyakinan yang tinggi atas mimpi, melainkan juga membutuhkan kerja keras tanpa lelah.

Cerita kekuatan mimpi inilah yang bisa diteladani dari kisah hidup Muji, tukang becak yang bertempat tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Siapa yang menyangka bila dari hasil mengayuh becak setiap hari, Muji berhasil mengantarkan keempat anaknya menjadi sarjana. Kisah hidup Muji menunjukkan, keterbatasan dana, sejatinya bukanlah halangan bagi orangtua untuk menunjukkan cinta mereka pada anak-anak, yaitu dengan menyekolahkan mereka hingga meraih pendidikan tinggi.

Mungkin banyak orang bakal sulit untuk percaya dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang tukang becak yang penghasilannya tidak seberapa, mampu menyekolahkan empat anak hingga menjadi sarjana? Dengan logat Jawa Timur yang kental, Muji berkisah tentang perjuangannya menyekolahkan anak. “Memang enggak mudah. Saya harus bekerja keras,” cerita Muji, seperti dikutip dari Jawa Pos Radar Mojokerto, Agustus 2017 lalu.

Kerja keras tanpa lelah dan kenal kata menyerah tecermin dalam keseharian Muji. Pria yang tahun ini akan menginjak usia 68 tahun itu mengawali hari dengan mengayuh becak untuk mengantarkan pelanggannya, yaitu anak tetangga untuk berangkat sekolah. Setelah itu, bila pelanggan becak sudah sepi, Muji 'beralih profesi' menjadi buruh bangunan hingga petang.

Baca juga:  5 Perubahan Kecil Agar Esok Lebih Baik

Ibaratnya, kaki di kepala, kepala di kaki. Mungkin itu istilah yang tepat untuk menyebut akrobat kerja keras Muji menghidupi keluarga. “Ya, enggak ada istirahatnya. Saya harus kuat seperti punya tujuh tubuh,” ujarnya memberi analogi.

Sepulang mengayuh becak dan menjadi kuli bangunan, Muji juga tidak langsung bisa beristirahat santai bersama istrinya, Wartini. Dia menyambung lagi bekerja sebagai tukang servis pompa manual. Demi bisa menggapai mimpi, sebagai kepala keluarga, Muji tidak punya pilihan lain selain bekerja serabutan apa saja yang penting halal dan menghasilkan uang untuk menutup kebutuhan keluarga.

Muji ingin anak-anaknya mendapatkan bekal pendidikan yang memadai walau terlahir sebagai anak orang yang tidak berpunya. Dia meyakini, pendidikan yang cukup bisa menjadi bekal anak-anaknya kelak sehingga dapat menapaki kehidupan yang lebih baik.

Mengajak anak belajar tanggung jawab

Kondisi serba terbatas seperti itu juga menjadi kesempatan bagi Muji untuk mendidik anaknya agar selalu disiplin dan bekerja keras. Ketika dia berjibaku mencari nafkah dari berbagai sumber, Muji juga mengajak anak-anaknya turut bahu membahu mencari penghidupan. "Saya beri mereka tanggung jawab merawat 50 ekor ayam petelur yang kami miliki" terang Muji.

Setiap hari, keempat anak-anaknya berbagi tugas untuk merawat ayam-ayam itu mulai dari membersihkan kandang, memastikan kecukupan minum hingga mencari makan untuk 50 ekor ayam tersebut. "Mereka saya tugasi mencari sisa-sisa nasi yang banyak dibuang para penjual soto. Sisa-sisa nasi itu bisa kami manfaatkan sebagai makanan ayam," ceritanya. Dari sini, Muji bisa mendaras rupiah melalui penjualan telur ke berbagai tempat.

Berkat keyakinan dan kerja kerasnya, Muji berhasil mengantarkan empat anaknya meraih pendidikan sarjana. Muji juga merasa beruntung dikarunai umur yang panjang dan kesehatan sehingga dia mampu mewujudkan mimpinya menyekolahkan anak hingga pendidikan tinggi.

Baca juga:  Efisiensi Hidup dengan Asuransi Jiwa Online

Anak pertama, Sudarsono, kini berusia 41 tahun, mampu meraih pendidikan tinggi hingga S-3 atau doktoral dan kini telah bekerja di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Sedangkan anak kedua, Wandiyuwono, yang berusia 38 tahun, berhasil menamatkan pendidikan tinggi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan permesinan. Kini anak kedua Muji itu bekerja sebagai pengusaha tutup botol air mineral.

Anak ketiga Muji bernama Romlah, saat ini berusia 32 tahun, sukses meraih gelar sarjana S-1 dari Universitas Jember dan kini juga menjadi pengusaha mandiri. Terakhir, anak bungsu bernama Zainul Abidin, 30 tahun, setelah menamatkan S-1 di Universitas Brawijaya, kini tengah menempuh S-3 di negeri sakura Jepang.

Tetap hidup bersahaja

Kini di usia senja, Muji mengaku tinggal memetik buah kerja keras itu. Keempat anaknya sudah hidup mapan dengan bekal pendidikan yang dia perjuangkan dengan kerja keras. Muji kini bisa menikmati masa tuanya tanpa perlu berlelah mengayuh becak atau menjadi buruh bangunan. Becak yang dulu menjadi salah satu sumber penghidupannya, sudah dia jual.

Untuk biaya hidup, Muji mengaku, anak-anaknya yang menanggung semua. Mulai dari kebutuhan dapur sampai obat-obatan. Muji juga sering pergi berkunjung ke tempat anaknya tinggal, di Jakarta juga di Jepang, sekadar menengok anak dan cucu. Yang menarik, meski kini kehidupan Muji sudah lebih baik, lelaki yang masih bertinggal di Ngaglik, Mojokerto, itu tetap setia dengan gaya hidup bersahaja. Pakaiannya tetap apa adanya dan sering menikmati waktu dengan minum secangkir kopi bersama teman-temannya.

Kisah hidup Muji memberi banyak inspirasi tentang kekuatan mimpi dan kerja keras sebagai kunci utama keberhasilan. Upaya mengantarkan anak agar bisa meraih pendidikan terbaik juga dapat Anda lengkapi dengan keberadaan asuransi jiwa. Asuransi jiwa menjadi bagian dari ikhtiar untuk mengelola risiko keuangan yang mungkin terjadi. Yaitu, apabila di tengah perjalanan menyekolahkan anak, si pencari nafkah meninggal dunia dan berakibat pada terhentinya sokongan finansial untuk sekolah anak.

Sumber foto Muji: Jawa Pos Radar Mojokerto, Agustus 2017


Bagikan artikel ini :