Bekerja Lebih Tenang dengan Asuransi: Kisah Uci dan Komunitas Sopir Bus

12 February 2018 |

Lakukan hal kecil dengan cinta yang besar, demikian petuah bijak yang sering terdengar. Kalimat itu mungkin tepat untuk menggambarkan kesabaran dan ketekunan Uci Sanusi, sopir bus di Purwakarta, Jawa Barat, saat mengajak rekan-rekan seprofesinya agar selangkah lebih maju mengelola keuangan melalui asuransi.

Berkat ketekunan Uci merangkul rekan-rekannya, sejak satu dekade belakangan, komunitas awak bus di Purwakarta itu bisa bekerja lebih tenang karena telah mengantongi proteksi asuransi. Mulai dari jaminan kesehatan, kecelakaan, hari tua, dan asuransi jiwa.

Cerita ini bermula sekitar tahun 2008 silam. Uci menuturkan kepada Kompas.com, Juni 2011, sejak lulus SMA tahun 1988, dia bekerja sebagai sopir bus. Pada tahun 1990, Uci memutuskan bekerja sebagai sopir bus jurusan Terminal Ciganea, Purwakarta-Kampung Rambutan, Jakarta.

Sebagai sopir, pendapatan Uci tidak tetap. Perusahaan bus tidak memberi gaji dan dia pun tidak terikat kontrak kerja. “Kami bermitra dengan pemilik armada bus dan wajib menyetor hasil kerja setiap hari,” cerita Uci seperti dikutip Kompas.com.

Dengan sistem kerja seperti itu, Uci dan rekan-rekan sopir serta kondektur bus benar-benar menanggung semua risiko kerja sendiri, mulai dari risiko kecelakaan, kesehatan, hingga kematian. Situasi ini jelas membuat Uci dan rekan-rekannya sulit meningkatkan kualitas hidup Kompas.com, Juni 2011 silam. Sebagai pekerja dengan pendapatan tidak menentu, para sopir dan kondektur ini seringkali tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup. Setoran senilai Rp 200.000 per hari pada pemilik armada harus dikejar. Tidak jarang, ketika penumpang sepi, awak bus yang tergabung dalam Gabungan Sopir dan Kondektur (Gasonek) Purwakarta itu pulang tanpa hasil.

Pendapatan yang tidak menentu ditambah faktor pendidikan, budaya dan lingkungan, menjadikan kondisi keuangan para awak bus ini jauh dari ideal.Mereka tidak mampu mengelola pendapatan dengan optimal. Ketika memperoleh pendapatan besar, banyak yang langsung menghabiskan untuk berfoya-foya. Namun, saat sepi penumpang yang membuat setoran seret, akhirnya banyak yang terpaksa “nombok”. “Ya, terpaksa mencari pinjaman untuk menutup setoran harian,” cerita Uci.

Baca juga: Efisiensi Hidup dengan Asuransi Jiwa Online

Kondisi keuangan semakin parah ketika mendadak terjadi musibah. Misalnya, ada anggota keluarga yang sakit, kecelakaan atau meninggal dunia. Ongkos berobat bisa mencapai jutaan rupiah hingga memaksa awak bus ini menggadaikan aset, menjual harta benda, bahkan terpaksa berutang pada rentenir dengan bunga tinggi.

Berkah dari sosialisasi asuransi

Suatu hari, sekitar tahun 2008, Uci sempat menghadiri acara sosialisasi tentang asuransi. “Dari situ saya memahami pentingnya memiliki asuransi,” terang Uci.

Uci pun membagi pengetahuannya pada rekan-rekan sesama sopir tentang manfaat asuransi bagi kesejahteraan hidup mereka dan mengajak mereka agar berasuransi. Namun, upaya ini tidak mudah. Di awal-awal ikhtiarnya, Uci banyak menuai penolakan. “Karena manfaatnya tidak dirasakan langsung, banyak anggota komunitas yang tidak sepakat,” cerita Uci.

Namun, Uci pantang mundur. Dia mencoba mencari pendekatan lain. Semula, kepesertaan asuransi komunitas sopir dan kondektur bus ini dilakukan dengan cara menyisihkan iuran Rp 75.000 per bulan untuk mendapatkan empat program penjaminan yaitu kesehatan, kecelakaan, kematian, dan hari tua. Uang senilai itu tidak kecil bagi para awak bus yang rata-rata penghasilannya kurang dari Rp 50.000 per hari.

Akhirnya, Uci dan pengurus Gasonek memakai cara lain. Yaitu, dengan memotong Rp 20.000 dari pendapatan kotor satu armada bus setiap hari. Dengan cara itu, iuran kepesertaan asuransi lebih mudah terkumpul. Dengan rata-rata armada sebanyak 15-20 bus, dalam sebulan bisa terkumpul dana Rp 7 juta-Rp 9 juta. “Sopir dan kondektur tidak terbebani dengan potongan itu karena menganggapnya sebagai ongkos kerja, bukan uang pribadi yang dikurangi,” terang Uci.

Baca juga: Cara Ringan untuk Merasa Aman

Gasonek membayar premi Rp 7,5 juta per bulan untuk kepesertaan asuransi 98 sopir dan kondektur. Uci juga rajin mengkampanyekan manfaat program penjaminan itu pada komunitasnya. “Kita ini pekerja mandiri, semua tergantung usaha sendiri. Jika bukan kita sendiri, siapa yang memayungi hidup kita?” ujarnya.

Pengurusan program dipegang oleh Uci di sela-sela kesibukan dia sebagai sopir. Mulai dari mengurus administrasi anggota atau keluarganya yang menjalani pengobatan, rawat inap, operasi, menebus obat ke apotek, sampai mengurus santunan kematian dan biaya pemakaman.

Uci menyampaikan laporan keuangan dalam rapat rutin paguyuban. Dia menempel laporan keuangan termasuk fotokopi kuitansi di papan pengumuman di Mushala Al Barokah, Terminal Ciganea, yang jadi “markas” para sopir dan kondektur saat istirahat.

Perjuangan Uci mengajak rekan-rekannya berasuransi akhirnya mendapat dukungan penuh setelah beberapa anggota merasakan manfaat tersebut. Ceritanya, suatu hari ada anggota paguyuban yang menjalani rawat inap dan operasi jantung. Dari total biaya Rp 30 juta, sebanyak Rp 25 juta ongkos pengobatan si kondektur ditanggung oleh asuransi. Semangat kemandirian ini tidak terhenti di asuransi. Paguyuban Gasonek pun mampu membagi-bagikan tunjangan hari raya (THR) dari simpanan kas anggota.

Asuransi makin murah dan terjangkau

Setiap orang memiliki risiko finansial, apapun jenis pekerjaannya. Pekerja mandiri seperti Uci dan rekan-rekannya tidak berbeda dengan pekerja kantoran dan segmen profesi lain yang menanggung risiko finansial yang perlu dikelola.

Bila kini Anda juga berstatus sebagai pekerja mandiri, pekerja lepas, wiraswasta atau profesional, jangan sepelekan pentingnya berasuransi. Terlebih bila Anda juga berstatus sebagai pencari nafkah keluarga. Dengan membeli produk asuransi, Anda mengalihkan risiko finansial pada pihak ketiga yaitu perusahaan asuransi. Sehingga, ketika terjadi risiko sakit, kecelakaan atau kematian, kondisi finansial Anda maupun keluarga tidak sampai terguncang. Bekerja pun bisa lebih tenang.

Kehadiran asuransi, diakui oleh Uci membuat para sopir dan kondektur bus Purwakarta merasa lebih tenang dalam bekerja. "Kami tidak perlu kebut-kebutan untuk mengejar setoran sekadar untuk membayar utang atau berobat," ujar Uci.

Perkembangan internet kini bisa membantu Anda lebih mudah mengakses asuransi. Anda bisa menimbang asuransi online untuk mendapatkan proteksi dengan premi terjangkau, mulai dari Rp 33.000 per bulan. Ada dua pilihan yang bisa Anda timbang yaitu asuransi jiwa My Life Protection dan asuransi penyakit kritis My Critical Protection. Keduanya bisa Anda akses di sini.


Bagikan artikel ini :